Honda_Blade_Indonesia
Sudah saatnya semua Bladers dari latar belakang, daerah dan komunitas berbeda bertemu di dalam 1 wadah.... welcome "Bladers"
Pencarian
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search

Latest topics
» Berapakah Top Speed Honda Blade?
17.04.13 18:51 by Farras Rancho

» Honda Blade Anda Minum Apa?
10.08.12 19:02 by N2009YY

» Apa Warna New Honda Blade Anda?
10.08.12 19:01 by N2009YY

» laju tersendat
10.08.12 19:00 by N2009YY

» top speed loyo
10.08.12 18:53 by N2009YY

» Pooling Pelumas Terbaik Untuk Honda Blade
10.08.12 18:52 by N2009YY

» Blande koq berisik ya...?
10.08.12 18:50 by N2009YY

» About Moge 2nd, Honda only..
26.07.12 9:00 by vaness168

» blade bunyi berisik
25.07.12 11:41 by vaness168

Navigation
 Portal
 Indeks
 Anggota
 Profil
 FAQ
 Pencarian
Statistics
Total 394 user terdaftar
User terdaftar terakhir adalah Eko Handoyo

Total 316 kiriman artikel dari user in 68 subjects
Top posters
soranibrahim (53)
 
Ujank (42)
 
Admin (38)
 
rainmaster (30)
 
blady_ghost_666 (14)
 
belda (12)
 
feri usmawan (12)
 
vaness168 (10)
 
daniel (8)
 
dyztha77 (7)
 


Komparasi Per Klep Aftermarket Honda Blade

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Komparasi Per Klep Aftermarket Honda Blade

Post  Admin on 21.03.11 20:13


OTOMOTIFNET - Seiring makin banyaknya pengguna Honda Blade di arena balap, kian banyak pula komponen racing yang beredar. Salah satunya per klep. Cukup banyak merek yang menyediakan, di antaranya ada Per Klep Jepang, WRD, 3D1 dan Per XX.

Penggunaan per klep racing di arena balap memang sangat diperlukan. “Untuk mencegah terjadinya floating,” terang Erwin Akiang, mekanik tim Honda Aries Putra. Kalau floating, risiko paling buruk klep bertabrakan dengan piston, patah deh.


Pengukuran tekanan menggunakan alat khusus merek Imada
Hal ini dikarenakan mesin balap bisa berkitir tinggi. Jika tetap pakai per standar, dipastikan saat putaran tinggi klep tak menutup sesuai timing noken as, karena terlambat menutup lantaran per keburu lemas.

Makanya per-per ini kurang cocok untuk mesin standar. “Malah enggak lari, karena tenaga malah habis untuk menekan per,” wanti Akiang, sapaan mekanik yang bermarkas di Ciputat, Tangerang ini. Kerugian lain menurutnya, seating dan ujung batang klep akan mudah aus.

Nah gimana performa per-per aftermarket di atas? Untuk mengetahuinya kami menguji langsung. Parameter yang diukur ada dua, yaitu daya tekan dan daya tahan.

Daya tekan berhubungan dengan kekuatan per menekan klep, untuk kembali ke posisi semula. Sedang daya tahan pasti berhubungan sama keawetan. Jika punya daya tahan tinggi tak perlu sering-sering ganti. Juga saat balap dari awal sampai bendera finish dikibarkan, performa mesin stabil.

Untuk mengetahui daya tekan, kami gunakan alat pengukur tegangan klep, mereknya Imada dengan satuan Kgf. Pengukuran dengan mengepres per hingga menyisakan panjang mirip saat terpasang di motor ketika ditekan kem.

Kali ini ditekan hingga sisa 18,6 mm. Karena saat per terpasang, panjangnya jadi 25,7 mm, nah diasumsikan pakai kem dengan lift 7,1 mm maka sisanya 18,6 mm. Oh iya, jika dibalap lift-nya bisa lebih dari itu. Per standar tekanannya 30,5 Kgf.

Sedang daya tahan dites dengan dipres pakai tanggem. Sesuai saran Akiang, juga dari Edi Karyadi, pemilik merek 3D1, “Daya tahan paling gampang ya dicatok pakai tanggem.” Kali ini dilakukan selama 2 jam. Sebenarnya lebih afdol jika terpasang langsung di motor, karena ada efek panas mesin juga. Nah ini kita agendakan untuk edisi yang akan datang.


Tekanan diukur dengan kondisi mirip di dalam mesin saat lift maksimal. Biar presisi, pengukuran fisik per pakai sigmat digital

Namun sebelum diukur kedua hal itu, juga dicek kondisi fisiknya. Yaitu dari panjang per, diameter batang per, juga banyaknya ulir.

Ketiga hal itu berhubungan sama performa per. Makin panjang dan makin besar ulir per, maka daya tekan makin besar. Sedang jumlah ulir berhubungan dengan daya tekan maksimal, makin banyak maka kian pendek jarak mainnya. Data fisik silakan amati tabel.

Per Klep Jepang


Per Klep Jepang
Termasuk favorit di balap. Lantaran terkenal kuat dan tahan lama. Awalnya merupakan hasil riset mekanik Suzuki, Akutagawa San. Makanya jika dipasang di Blade, topi klep mesti dibubut atau pakai punya Smash.

Per yang dijajakan berkisar Rp 450-650 ribu ini, saat dipress pakai alat hingga sisa 18,6 mm mampu memberi tekanan hingga 48,5 Kgf. Sedang setelah dipres panjangnya tetap 30,5 mm.


WRD


WRD
Paling jelas diameter ulir sama dengan per standar, 6,25. Makanya lift maksimal terbatas. Terbukti saat diukur daya tekannya, antar ulir hampir mentok. Diameter dalam juga lebih kecil dari standar, maka harus ada ubahan di topi klep.

Harganya cukup terjangkau, hanya Rp 90 ribu. Daya tekan tercatat 43 Kgf. Dan setelah dipres panjangnya berkurang 0,07 mm.

3D1


3D1
Menurut Edi, produknya ini sengaja untuk menyaingi per klep Jepang. Keunggulan yang ditawarkan mampu melayani lift klep hingga 12 mm, karena jumlah ulir yang lebih sedikit dan diameter lebih kecil. Dijajakan Rp 350 ribu. Daya tekan termasuk bagus, mencapai 40 Kgf dengan sisa jarak main masih banyak. Namun setelah ditekan selama dua jam terjadi penurunan 0,32 mm.



Per XX


XX
Pendatang baru yang juga untuk menandingi per klep Jepang, klaimnya juga diriset di negeri Matahari Terbit. Untuk menemukannya masih sulit, lantaran memang baru akan diedarkan oleh R59, yang punya workshop di Ciputat, Tangerang.

Pressure yang mampu diberikan saat diukur mencapai 46,25 Kgf. Sisa main per pun masih banyak. Untuk daya tahan ada penurunan 0,06 mm.

KESIMPULAN

Per klep aftermarket punya daya tekan dan daya tahan yang jauh lebih besar dari standarnya, hal ini untuk mengimbangi mesin balap yang mampu berkitir tinggi. Namun untuk lebih meyakinkan mesti diuji pada motor secara langsung. Nah tunggu saja kelanjutan tes ini.

Admin
Administrator
Administrator

Jumlah posting : 38
Blade Point : 1114
Blade Reputation : 0
Join date : 21.03.11

http://honda-blade.indonesianforum.net

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik